Home » Education Resources » Remedial dan Motivasi Belajar Para Siswa

Remedial dan Motivasi Belajar Para Siswa

Saturday, August 4th, 2007 | Education Resources

Oleh DEWI SYAFRIANIMEMASUKI masa ulangan block/akhir semester ganjil di ujung tahun 2005 ini, kembali para siswa yang memperoleh nilai kurang dari angka standar ketuntasan belajar minimal (SKBM), diharuskan mengikuti remedial tes. Dengan ketentuan itu, ada satu fenomena baru, yaitu tidak sedikit siswa yang baru saja selesai mengikuti ujian, sudah langsung menanyakan kapan remedial akan dilaksanakan.

SKBM, sebagaimana kita ketahui ditentukan oleh sekolah masing-masing, dengan memerhatikan beberapa faktor seperti tingkat esensial kompetensi yang hendak dicapai, tingkat kompleksitasnya, sarana pendukung, serta intake tentang siswa. Oleh karena itu, SKBM untuk setiap mata pelajaran tidak harus sama di setiap sekolah.

Dalam buku petunjuk sistem penilaian yang dikeluarkan oleh pemerintah, batas ketuntasan maksimum adalah angka 100 untuk ranah kognitif dan psikomotor, sedangkan untuk ranah afektif dapat menggunakan huruf A sampai C. Pada praktiknya, batas lulus yang banyak digunakan adalah 75, tetapi hal itu bukan harga mati. SKBM dapat disesuaikan dengan kondisi mata pelajaran maupun faktor-faktor yang menunjang terhadap penetuan SKBM, seperti disebutkan di atas. Sementara itu, bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan harus mengikuti program remedial.

Kalau kita melihat ke belakang, istilah remedial sebetulnya bukan sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan. Sudah lama kita mengenal istilah tersebut, baik untuk tes maupun untuk pembelajaran. Akan tetapi, sejak digulirkannya kurikulum 2004, istilah remedial terasa lebih hangat dan merasuki semua guru maupun siswa. Sebagaimana diketahui, dalam kurikulum 2004, sistem penilaian hasil kegiatan pembelajaran menggunakan acuan kriteria.

Acuan itu berasumsi, bahwa semua siswa dapat belajar apa saja, hanya waktu pencapaiannya yang berbeda. Konsekuensi dari acuan itu adalah diadakannya program remedial bagi siswa yang belum mencapai batas ketuntasan, serta diberikannya program pengayaan bagi mereka yang telah mencapai SKBM.

Sampai saat ini, karena berbagai kendala, para guru belum banyak memikirkan sistem pelaksanaan pengayaan. Perhatian lebih banyak tercurah untuk melaksanakan remedial bagi siswa yang kelum mencapai batas ketuntasan.

Idealnya, para siswa yang belum tuntas dalam menguasai sebuah kompetensi, tidak dianjurkan untuk mengikuti kompetensi berikutnya.

Mereka terlebih dahulu harus mengikuti serangkaian program remedial, sehingga pada akhirnya siswa tersebut dapat mencapai angka ketuntasan yang telah ditetapkan oleh guru. Oleh karena itulah remedial tidak hanya dilakukan di akhir semester saja, tapi setelah selesai membahas satu kompetensi dasar tertentu.

Sementara guru harus segera melakukan tes dan menganalisisnya untuk mengukur tingkat pencapaian siswa atas kompetensi tersebut. Dalam satu semester, guru dapat melakukan remedial lebih dari satu kali, tergantung berapa kali ulangan dilaksanakan.

Minta remedial

Kalau diamati, ada kecenderungan baru, yakni begitu ulangan tentang satu kompetensi dilaksanakan, siswa yang merasa nilainya kurang, segera meminta untuk dilaksanakan remedial tes. Tetapi, berdasarkan pengalaman, mereka yang nilainya kurang, lantas meminta remedial tes, hasil yang dicapainya tetap saja tidak banyak berubah, yaitu masih di bawah SKBM.

Akhirnya, banyak di antara guru yang mempertanyakan, apakah siswa yang melaksanakan remedial itu mempersiapkan diri? Apakah siswa peserta remedial itu belajar terlebih dahulu atau tidak? Apakah hanya antusias meminta atau melaksanakan serangkaian kegiatan dalam mengikuti remedial? Sementara motivasi untuk belajar agar mencapai SKBM tidak ada.

Kalau itu sampai terjadi, tentu kita merasa khawatir, jangan-jangan remedial tes hanya dijadikan jalan yang dapat ditempuh dengan mudah untuk dapat mencapai SKBM. Dikhawatirkan ada asumsi, biarlah nilainya kurang, nanti juga ada remedial. Apalagi, ada juga siswa yang jeli mengamati bahwa tingkat kesulitan dari soal remedial pada akhirnya dibuat menjadi lebih rendah.

Bagi siswa yang motivasinya rendah untuk mendapatkan nilai tinggi, atau yang malas belajar serta mengandalkan adanya remedial tes, sebenarnya rugi karena dengan mengikuti kegiatan remedial mereka tidak akan memperoleh nilai yang lebih. Sebab, dalam peraturannya, angka SKBM adalah batas nilai tertinggi yang dapat dicapai oleh siswa yang melaksanakan remedial.

Berdasarkan hasil diskusi dengan beberapa rekan guru dari beberapa sekolah, nampaknya sikap siswa ada kecenderungan demikian. Gejala seperti itu tentu perlu kita sikapi, jangan sampai menjadi trend yang pada akhirnya nanti akan semakin melemahkan motivasi belajar siswa, terutama para siswa yang tergolong kurang memiliki motivasi untuk mencapai prestasi tinggi.

Memang, pelaksanaan kurikulum 2004 belum dapat kita laksanakan seutuhnya, mengingat berbagai kendala dan keterbatasan yang ada. Akan tetapi, apa yang kita coba merintis untuk dilaksanakan juga mudah-mudahan tidak menjadikan semakin rendahnya kualitas anak didik. Amin.***

(Penulis, Guru Geografi SMAN I Soreang, Kabupaten Bandung)

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/31/1106.htm


Tags: , , ,

previous post: Web 2.0

next post: Kegunaan media komunikasi dalam pembelajaran

Data Storage USB Drives MXI Security 64GB Stealth

You can now save your important works on USB drive in secure. MXI Security

Rontokbro

Rontokbro dapat dikatakan sebagai raja virus lokal dan menguasai tangga pervirusan Indonesia selama tahun

iPhone is Support Flash based Application

Ever since the iPhone launched the curiosity if there’s one with flash support coming

Sharp TX-W92 in Cloning

The Sharp TX-W92 was cloning by the phone COOL920. COOL920 main specifications - comes
Your Ad Here